Home
MAN 1 BANJARNEGARA
PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU MAN 1 BANJARNEGARA TAHUN AJARAN 2020/2021

Gitar dan Ayah - Cipta Cerpen ECA AXILLA REGIO SAKA PULA

Gitar dan Ayah

       Namaku Tobi. Tobi Frimansyah. Aku adalah anak tunggal dari keluarga yang jauh dari kata kecukupan, ayahku, Aditya Warman, adalah seorang pemulung. Sehari-hari ayah selalu mencari barang bekas, plastik, botol, dan apapun yang bisa ditukarkan menjadi uang. Sedangkan ibuku, Maryam, seorang ibu rumah tangga. 

Aku masih sekolah, masih kelas 10 SMA. Tepatnya di SMA N 1 Mojokerto. Aku bersyukur karena sampai saat ini aku masih bisa sekolah karena aku mendapat beasiswa dari SMP, waktu itu hampir saja aku putus sekolah bahkan membayangkan tamat 12 tahun saja belum tergambarkan. Karena ayah mungkin terlalu tegas, terus menyuruhku belajar. Tapi keluargaku selalu optimis.

***

Aku baru kelas 10, seperti pelajar pada umumnya, setiap pagi aku selalu sibuk berkutat dengan segala sesuatu yang harus disiapkan untuk sekolah. Dari mandi, menyetrika seragam, sampai menyiapkan sarapan. Benar-benar sibuk. Tidak ada waktu untuk duduk santai kecuali saat sarapan. Sarapan pagi ini telur dadar dan nasi goreng, lebihan nasi semalam. Sederhana memang, tapi mewah bagi kami. Ayah sudah duduk di sana, diujung meja sebelah kiriku. Ibu masih menghidangkan nasi untuk ayah. Lalu kepadaku. 

Sarapan pagi ini cukup hikmat, seperti biasa.

“Bagaimana sekolahmu, Tobi?” Tanya ayah membuka percakapan. Aku menoleh “Lancar. Seperti biasanya.” Ayah mengangguk takzim.

“Kau mau tambah nasinya, nak?” tawar ibuku sambil siap menyiduk nasi dalam bakul. Aku menggeleng. Menolak ramah. Aku sedikit terburu-buru, ingin sekali cepat pergi ke sekolah. Tanpa sadar, ayah menatapku lamat-lamat. Aku sekali lagi menoleh.

“Ada apa, Yah?”

“Tidak, Ayah hanya merasa bersyukur melihatmu mengenakan seragam putih abu-abu.” Ayah berkata sedikit terbata-bata, sesekali mengusap wajah. “Tak Ayah sangka, bahwa Tuhan masih memberi kesempatan untuk Ayah melihatmu bersekolah lagi.” Ayah kali ini tersenyum, pandanganya lebih hangat. Begitupun ibu, melihatku, tersenyum juga. Aku mengagguk, membalas senyum ayah. Tak kalah hangat.

Sesi sarapan selesai, aku membantu ibu merapikan meja, sedangkan ayah sudah di luar, menyiapkan keranjang dan sepeda ontel. Selepas berpamitan dengan ibu, aku menghampiri ayah. Persis di depan rumah ayah sudah menunggang sepeda, menungguku.

“Sudah siap?”

“Sudah. Ayo berangkat, Yah,” aku menyusul duduk di boncengan sepeda.

Pagi ini cukup mendung, awan hitam melai bergulung menutupi langit. Aku berdecak pelan pelan, memohon agar tidak hujan. Kasihan ayahku nanti kalau-kalau di jalan hujan. Sudah 15 menit aku dan ayahku bersepeda menuju sekolah, melewati sawah dan ladang sawit. Tak lama kamipun tiba, tepat di depan halaman ayah menghentikan sepedanya. Lantas aku berpamitan, mencium tanganya.

“Belajar yang rajin, Nak.” Ayah berkata mantap. Aku menerimanya sebagai nasihat paling kuat, semangat seorang ayah jelas tersalur kepadaku. Mantap.

Ayah lalu pergi, mengayuh sepedanya dengan kuat. Aku melangkah menuju gerbang, di sana sudah ada Calista. Seperti biasa menungguku, dengan rambut panjangnya yang hitam selalu tertata rapi. Sangat nyaman dilihat.

“Pagi, jenius. Kau terlihat bungah hari ini,” sapa Calista, dia selalu menyebutku “Jenius”. Entahlah, aku tak merasa begitu bahkan aku sudah menegurnya, tapi dia tidak menggubrisnya.

“Berhenti menyebutku dengan panggilan itu, Ta.”

“Lihatlah, bahkan kau tidak menjawab sapaku!” ucap Calista sedikit ketus.

Kami berjalan melewati kelas-kelas yang masih sepi, menyelusuri koridor, sambil berbincang tentunya, kadang menyapa kakak kelas yang kebetulan lewat. Aku kali ini berangkat lebih awal karena hari ini jadwalku piket. Bersama Calista tentunya. Setelah melewati koridor kami melewati halaman upacara, jarak gerbang depan kelas kami cukup jauh. Seperti ujung dengan ujung. Tapi tepat di depan Ruang Guru kami berhenti, menyaksikan kesibukan di sana. 

Betapa tidak, sepagi ini, ada segrombolan siswa  kelas 12 tengah memindahkan alat-alat musik dari ruang guru menuju lantai dua, entah keruangan mana entah aku juga tidak tahu. 

Calista menyikut perutku. “Eh, lihat! Mereka kelas 12 kan? Mau kemana pagi-pagi buta seperti ini membawa alat musik?”

Aku menggeleng pelan, mana ku tahu. Baru saja aku memikirkannya, tapi gadis ini sudah bertanya macam-macam. “Aku tidak tahu, Ta.”

“Memangnya sekolah kita punya alat musik?” Tanya Calista sekali lagi.

“Baru mungkin, kalo memang baru bakanya kau senang. Kau ketua paduan suara bukan?” kini giliranku menyikut Calista. 

“Apa hubunganya?” Calistia menunjukan muka polosnya. Aku menepuk dahi, gadis ini sedikit membuatku geram, “Barangkali alat musik itu milik tim paduan suara.” Calista tak ambil pusing, dia memilih melanjutkan jalan menuju ruang kelas. Melaksanakan piket.

Kelas lengang, masih pukul setengah tujuh. Aku dan Calista langsung melaksanakan piket, menyapu, merapikan meja, dan kegiatan lainya. Setengah jam berlalu, kelas sudah beres dibantu juga dengan teman piket lainya. Siswa lain juga mulai memasuki kelas, hanya soal waktu saja kelas sudah gaduh, makin riuh. Aku sudah duduk di bangku, di belakang Calista, barisan paling kanan.

5 menit berlalu, bel nyaring berbunyi. Pelajaran pertama matematika, Pak Wicak, sudah masuk kelas dan seketika kelas hening. Jam sibuk sudah dimulai, Pak Wicak sudah menjelaskan pelajaran tentang trigonometri sedari setengah jam lalu. Kami semua mengikutinya dengan tenang juga kondusif. Hingga ketukan pintu terdengar, sembari mengucap salam, nampak kakak kelas 12 yang tadi pagi mengangkut alat musik. Sekitar 3 siswa dengan tubuh bongsor, memasuki ruangan mendekati Pak Wicak lantas berbincang cenderung berbisik. 

Calista menoleh ke arahku, matanya jelas seolah bertanya, kenapa mereka masuk kekelas? Aku sontak mengangkat bahu. Mana ku tahu. Belum sempat otakku mencerna kedatangan kakak kelas ini, salah satu dari mereka sudah maju ke depan, di tengah kelas.

“Selamat Pagi, maaf mengganggu. Atas ijin Pak Wicak, saya bediri di sini mewakili teman-teman dari Band The Dream, di bawah bimbingan Ibu Selena yang di bentuk guna mengikuti festival musik di alun-alun. Tepat 5 bulan dari sekarang, bulan april. Maka dari itu saya, Rafi, ketua band ini akan merekrut anggota baru guna melengkapi band, sehingga mampu memaksimalkan kemampuan latihan untuk menjuarai festival tersebut.

“Dan mulai hari ini kami memberikan kesempatan bagi siapapun yang mau mengisi bagian gitar dan vokalis. Silahkan bagi yang berminat untuk menemui kami di ruang 18 lantai 2. Kami akan melaksanakan seleksi bersama Ibu Selena pukul 4 sore. Bagi yang ingin mengikuti silahkan langsung saja datang, pendataan juga akan dilaksanakan di sana. Baik, ini adalah brosur festival musik tahun ini” Pria bernama Rafi itu menunjukkan setumpuk brosur di meja. “Ada yang ingin ditanyakan?”

Kelas mulai lengang, beberapa anak saling lirik. Sisanya melempar tatapan nanar. Calista di depanku tiba-tiba mengangkat tangan tinggi. Menarik atensi kelas, terutama Mas Rafi. Ketua band itu menoleh, lantas tersenyum. Mempersilahkan.

“Saya Calista, saya mau daftar, tetapi saya ketua tim paduan suara. Apakah saya boleh ikut?”

“Kenapa tidak? Tapi lebih baik ditanyakan dulu sama guru pembimbing. Siapa tahu besok-besok latihan band semakin padat, dan menyita waktu latihan paduan suara.” Ucap Mas Rafi memberi saran.

Calista mengangguk paham. Mas Rafi menanyakan sekali lagi, tapi kelas tetap lengang. Dengan senyum sumringah, Mas Rafi lalu memberi salam pamit. Balik kanan, berpamitan pula dengan Pak Wicak. Kami melanjutkan pembelajaran seperti biasa.

Bel pulang, para siswa berangsur keluar gerbang. Tapi aku dan Calista langsung menuju ruang 18, setelah izin pembimbing Calista tentunya. Kami sudah berunding ingin mengikuti. Aku sebenarnya juga tertarik, mengingat aku juga bisa bermain gitar. Dulu, waktu umurku 13 tahun, ayah memberiku gitar bekas yang ia temui di jalan. Keadaanya cukup parah, namun teman-teman SMP ku dulu membantuku memperbaikinya. Saat itu pula aku belajar gitar bersama mereka, sampai cukup mahir.

Di sana sudah ada Mas Rafi, Bu Selena, dan teman-teman band lainya. Pendataanku selesai, aku memasuki ruangan. Bu Selena tanpa basa-basi menyuruhku memainkan gitar. Aku melakukanya dengan cukup baik, berusaha tidak melakukan kesalahan, senar gitar terus kupetik tanpa jeda, memainkan sebuah lagu. 5 menit berikutnya, aku sempurna berhenti, disambut senyum teman-teman band, juga Bu Selena. Aku menoleh ke arah pintu, Calista memperhatikanku di sana. Tersenyum. Kini giliran Calista, aku menunggu.

Hari-hari berlalu, aku akhirnya mendapat kesempatan untuk mengikuti festival. Lolos seleksi. Tak kusangka juga Calista adalah satu dari sekian orang bersuara emas yang resmi menjadi vokalis band The Dream. Sejak 2 bulan lalu aku sudah latihan, tapi belum memberitahu orang tuaku mungkin sudah saatnya aku minta izin, walau terlambat. Sepulang dari sekolah aku langsung menuju rumah.

 “kau sudah pulang, Tobi?” Mendengar pintu mendecit pelan, ibu langsung menanyakan. Aku menjawab sopan, langsung menyambar handuk untuk mengeringkan rambut. Musim hujan sudah datang, aku sering kehujanan.

 Aku berjalan ke arah dapur menghampiri ibu yang sedang mendidihkan air di tungku. Lalu duduk di kursi kecil dari kayu, disamping ibu. 

“Bu, ada yang aku tanyakan,” aku berkata pelan, sambil menikmati hangat api dari tungku dan gemercik air dari luar. Hujan makin deras.

“Iya. Katakan saja, ibu sedang menjaga api, ibu dengarkan.”

“Tobi boleh ikut band di sekolah, bu?” pintaku.

Ibu kali ini menoleh, dahinya berkerut, “band apa, Nak?”

“Band musik, bu. Di sekolah. Ada festival, siapa tahu menang.” Ibu membalas dengan senyuman. “Tanyakan nanti sama Ayah. Gitarmu masih kan?” Aku mengangguk. Menunggu ayah pulang, sambil memperbaiki radio tetanggaku. Seperti biasa aku selalu membantu keluargaku dengan membuka jasa service barang-barang elektronik. Ayah yang mengajariku dan sejak 2 bulan terakhir aku semakin jarang membantu ayah, alasanku bukan ikut band, tetapi mengikuti kelas tambahan matematika. 2 jam berlalu, tepat berhentinya hujan ayah pulang sambil menenteng sepeda ontel ke dalam rumah. Ayah lantas mengeringkan badan dan duduk menghampiriku, basa-basi tentang sekolah sambil mengotak-atik DVD. Seperti biasa.

“Yah, Tobi boleh ikut festival band di sekolah?.” Sedetik ayah menoleh, matanya menatapku lamat, cenderung tajam. Kontras dengan pandangan hangatnya tadi pagi. 

Ayah meletakan DVD yang sedang ia sapu dengan kuas kecil. “Nak, bukankah lebih baik kau belajar saja. Lebih giat.” Ayah kali ini menatapku lebih tajam, sedikit tersentak aku mendengar respon ayah. “Apakah karena ini kau jadi lebih sering pulang sore? Jangan ganggu jam belajarmu, Ayah tak punya biaya untuk menyekolahkanmu Tobi, kalau prestasimu menurun, jangan sampai. Beasiswamu akan dicabut.” Ayah berseru, sedikit ketus.

Aku menggeleng pelan. Wajahku terasa panas. Ingin sekali aku menyanggah ucapan ayah. Tapi penjelasan ayah juga masuk akal. Namun, hati ini berkata lain, ingin sekali aku tetap mengikutinya, aku memilih diam.

Matahari sudah tenggelam, ibu sudah menyiapkan makanan. Kami makan malam bersama, tetapi suasana lebih tenang, malah hening. Terasa janggal. Setelah selesai makan malam aku langsung ke kamar, berkutat dengan pikiranku sendiri, sambil menatap gitar. Lambat laun aku sudah membuat keputusan, aku akan tetap ikut festival. Kepetusanku sudah bulat.

3 bulan berlalu aku masih berlatih, tapi dengan cara yang berbeda, aku tetap mengikutinya, walaupun dengan waktu lebih rentan. Aku tak ingin ayahku curiga. Tepat sehari sebelum festival, kami berlatih band di tengah halaman. KBM telah usai, beberapa siswa sudah pulang, sisanya menonton. Kami berlatih serius sore itu, Bu Selena bertepuk tangan dengan hasil latihan kami.

“Hebat, kalian sudah melakukan yang terbaik, semoga besok penampilan kalian lancar,” ucap Ibu Selena sambil mengembangkan senyum. Aku ikut tersenyum, sambil menggenggam brosur aku yakin besok kami akan menang. Setelah kami menyelesaikan latihan terakhir kami, Ibu Selena mengijinkan kami pulang lebih awal untuk istirahat. Calista dan yang lain sudah berpamitan, aku juga langsung balik kanan. Hendak pulang.

Baru saja aku meletakan gitar, di ujung lorong, ayah sudah berdiri di sana. Aku tersentak, kakiku langsung terasa kaku, lidahku kelu sedetik setelah beradu tatap. Mata ayah tajam menyorot.

“Pulang,” ucap ayah dingin, tetapi penuh penekanan.

Aku mengangguk pelan, berjalan di di belakang ayah, lantas menyusul membonceng. Ayah mengayuh sepeda dengan cukup kencang. Perasaanku sudah tidak enak.

“Masuk!” Bentak ayah. Aku langsung duduk di kursi tua di ruang tamu. 

“Apa yang Kamu lakukan di sana, Tobi?” Aku menunduk, tak berani menatap apalagi menjawab ayah. Lidahku masih kelu.

“Hah? Jawab Ayah!”

“Latihan, Yah,” aku menjawab pelan.

Ibu berseru dari belakang, tapi taka ada yang menjawab. Ayah mendengus kencang, pelipisnya dipijat kasar menutupi wajahnya yang merah padam. Sedetik kemudian ayah langsung bangkit, berjalan ke dalam berpapasan dengan ibu. Ayah tetap menghiraukanya. Ibu duduk disampingku menanyakan. Tapi aku tetap diam.

 Beberapa saat kemudian ayah kembali sambil membawa gitar, menggenggamnya erat. Aku mendongak demi melihat ayah, mataku menatap nanar. Bayangan mengerikan terlintas di benakku.

“Ayah membesarkanmu selama ini dan selama itu juga ayah tak pernah mengajarkanmu berbohong. Kejujuran adalah hal mutlak. Dan kau Tobi, kau mengecewakan Ayah!” Ayah berseru, teriakanya memenuhi langit-langit.

Aku menggigit bibir, baru kali ini aku melihat ayah murka.

“Apa kau masih ikut band itu?” Tanya ayah sekali lagi.

Aku mengangguk perlahan. “Besok lombanya dimu-“ 

Brakk!

Sejurus dengan anggukanku ayah langsung membanting gitar ke lantai. Aku memejam mata, tak kuat melihatnya. Ibuku menahan napas, tak percaya apa yang barusan terjadi. Aku melirik, gitarku hancur, lebih parah dari saat pertama kali ayah memberikan gitar itu kepadaku.

“Masuk ke kamar, dan jangan harap kau akan bisa bemain band lagi!” tanpa sepatah katapun aku langsung melaju ke kamar. Kudengar ibu memohon kepada ayah agar bersabar. Tapi percuma, aku didorong kasar tepat di depan pintu kamar. Ayah menarik kunci, lantas menguncinya dari luar.

Matahari mulai remang, lampu kamar kubiarkan mati. Sebisa mungkin aku tahan untuk tidak menangis. Kuraih brosur festival band yang tergeletak di lantai, besok adalah hari perlombaan dilaksanakan. Besok Minggu.

***

Esok harinya, aku terpaksa kabur dari rumah, melompat dari jendela. Bersiap di kamar mandi umum. Bagaimanapun aku harus mengikuti festival tersebut, kami sudah latihan. Akan menyakitkan jika aku tiba-tiba tidak hadir.

Untunglah sekolah kami mendapat nomor seri terakhir. Aku datang tepat waktu. Setelah penampilan kesekian, akhirnya kami dipanggil ke atas panggung, sorak penonton masih kencang. Jantungku berdegup kencang, siapapun akan merasakan ini, aku rasa. Tapi cepat-cepat kusisihkan perasaan itu, berusaha menampilkan yang terbaik. Mas Rafi memandang kami, memberi aba-aba dan kami mulai memainkan musik. Penonton makin riuh, terdengar tepuk tangan kencang.

Kami melakukannya dengan baik, teriakan dan tepuk tangan penonton memenui langit-langit panggung. Aku melirik Bu Selena, wajahnya berbinar, senyumnya lebar. Dan sekali lagi. Aku tersentak melihat ayah di antara para penonton. Lututku lemas lagi, bagaimana ayah tau? Kami lantas turun, aku mencari ayah sebentar. Tapi tidak kutemukan juga.

Hingga panitia mengumumkan pemenang festival band tahun ini. Kami makin tegang kala panitia sudah menyebut juara 3 dan 2. Dan bravo! Sekolah kami masuk juara satu, rombongan band kami langsung bersorak, Mas Rafi naik ke panggung, mengambil hadiah. Bu Selena baru saja kembali, dan beliau bersama ayahku. Aku langsung tertunduk. Tak berani menatap.

“Tobi… Ayah bangga padamu.” Aku mendongak, tak percaya. “Maafkan ayah yang terlalu kasar, ayah tidak memperhatikan minat dan potensimu, Nak. Ayah terlalu menekan anak ayah sendiri. Tapi semua itu juga untuk kebaikanmu, Tobi.” Aku mengangguk takzim, menyeka air mata.

“Iya, pak. Tobi punya potensi. Dia pintar di bidang akademis, di sisi lain dia juga punya bakat yang harus dikembangkan. Bea siswanya tak akan dicabut. Malah mungkin ditambah, hari ini Tobi dan teman-temanya sudah mengharumkan nama sekolah,” jelas Bu Selena.

Ayah mengangguk, menatapku lagi. Tatapanya menjadi tatapan bangga.

“Maafkan ayah, Nak.” Lantas ayah memeluku dengan lebih erat. Brosur di tangan ayah digenggam. Tanpa kusadari, teman-temanku ikut memeluk, berkerubung. Saling menepuk bahu. Melontar senyum satu sama lain.

 

 

Biodata penulis:

Eca Axilla Regio Saka Pula, putri kelahiran Banjarnegara, 30 September 2002, yang masih menempuh pendidikan  di MAN 1 Banjarnegara. Program IPS menjadi pilihan, sekarang duduk di kelas XII.

 

 

Jajak Pendapat

Bagaimanakah tampilan baru website MAN 1 Banjarnegara?
Sangat Bagus
Bagus
Sedang
Jelek
Sangat Jelek

Statistik User


0239487

MAN 1 BANJARNEGARA Pengunjung Hari Ini : 43
MAN 1 BANJARNEGARA Total Pengunjung : 94758
MAN 1 BANJARNEGARA Hits Hari Ini : 87
MAN 1 BANJARNEGARA Total Hits : 239487
MAN 1 BANJARNEGARA Pengunjung Online : 1
MAN 1 BANJARNEGARA IP Address Anda : 3.239.242.55

Follow Us On Twitter

MAN 1 BANJARNEGARA
MAN 1 BANJARNEGARA
Alamat :
Jl. Raya Pucang KM. 03 Banjarnegara.
E-Mail: admin@man1banjarnegara.sch.id
Telp. (0286) 598 5268 Kode Pos 53471